Hijaukan “Zona Merah”, Mahasiswa UIN Jogja Tanam 1.000 Pohon di Desa Glempang Banjarnegara
BANJARNEGARA, Suarakitanews.co.id – Langkah konkret menjaga alam ditunjukkan oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Banjarnegara (Kembara) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di tengah ancaman bencana tanah longsor yang kerap menghantui wilayah di Banjarnegara, mereka menginisiasi penanaman 1.000 bibit pohon di Dusun Karangtunon, Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja, Kamis (15/1/2026).
Lokasi penanaman dipilih karena Dusun Karangtunon termasuk dalam “zona merah” rawan longsor di Kabupaten Banjarnegara.
Berbagai jenis bibit mulai dari pohon Aren, Balsa, Trembesi, hingga Kopi disebar di titik-titik strategis untuk memperkuat struktur tanah sekaligus memulihkan sumber mata air.
Ketua Panitia Bakti Sosial Kembara 2026, Mita Azalia, menjelaskan bahwa kegiatan bertajuk “Konservasi dan Pemberdayaan” ini merupakan agenda rutin tahunan yang ke-12. Selain penanaman pohon, mahasiswa juga menggelar sosialisasi pengelolaan sampah bersama Bank Sampah serta edukasi swasembada pangan di lahan pekarangan.
“Ilmu bermasyarakat tidak kami dapatkan sepenuhnya di bangku kuliah. Melalui baksos ini, kami belajar membangun kepekaan sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan tempat asal kami sendiri,” Kata Mita.
Mewakili Bupati Banjarnegara, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan, Drs. Tulus Sugiharto, M.Si, memberikan apresiasi tinggi. Ia menyebut aksi ini sebagai jawaban nyata atas kerentanan wilayah Banjarnegara yang 70 persennya merupakan daerah rawan bencana.
“Berita bencana hampir tiap hari ada di Banjarnegara. Kemarin di Pandanarum, lalu di Desa Petir ada jembatan putus. Anggaran daerah banyak tersedot untuk infrastruktur yang rusak. Inisiatif mahasiswa ini luar biasa karena menyentuh akar masalah, yaitu pelestarian alam,” kata Tulus saat memberikambutan.
Tulus juga mendorong agar pemerintah desa mulai mengalokasikan Dana Desa untuk ketahanan lingkungan. “Jangan hanya fisik seperti aspal atau talud saja. Sisihkan untuk beli bibit pohon. Melestarikan alam itu investasi jangka panjang,” tambahnya.
Kehadiran para mahasiswa ini juga membawa warna baru bagi warga Karangtunon.
Kepala Dusun Karangtunon, Ari Sutono, mengaku sangat terbantu dengan edukasi yang diberikan. Menurutnya, selama ini warga hanya bertanam berdasarkan naluri tanpa teknik konservasi yang tepat.
“Wilayah kami ini zona merah. Kalau musim hujan, kami was-was. Adanya penanaman pohon dan sosialisasi ini sangat menyentuh nurani warga. Apalagi tadi malam ada bazar baju murah, warga tumpah ruah,” ungkap Ari.
Acara ditutup dengan simbolisasi penanaman pohon yang melibatkan anak-anak PAUD setempat.
Harapannya, generasi muda sudah mencintai lingkungan sejak dini agar “zona merah” di masa depan bisa berubah menjadi zona hijau yang aman dan produktif.
Rept :Haris
Editor. Herman
