Kelurahan Gempolsari Optimalkan Pengelolaan Sampah, Libatkan Kodim dan Produksi Paving Blok dari Limbah

0

Suarakitanews.co.id,  BANDUNG – Kelurahan Gempolsari terus memperkuat komitmennya dalam pengelolaan sampah terpadu. Kegiatan bersih-bersih yang rutin dilaksanakan di wilayah tersebut kali ini mendapat dukungan tambahan dari unsur TNI melalui Kodim 0618/Kota Bandung, sehingga proses penanganan sampah berjalan lebih optimal, Kamis (26/02/2026).

Lurah Gempolsari, Dra. Tri Setya Handayani, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang terjalin. Menurutnya, kegiatan bersih lingkungan sebenarnya sudah menjadi rutinitas di wilayah tersebut, di dukung oleh tim penggerak serta tim pengelola dan pemilah sampah. Namun, keterlibatan Kodim 0618/KB dalam kegiatan terbaru ini memberikan dampak signifikan.

“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Kegiatan hari ini luar biasa karena selain bersih-bersih dan pemilahan sampah, kami juga mengoptimalkan pengolahan sampah dengan mesin olah runtah atau motah,” ujarnya.

Pengelolaan Terpadu dari Hulu ke Hilir

Kelurahan Gempolsari menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Sampah basah dikelola secara terpisah dan dimasukkan ke dalam fasilitas khusus berupa lubang berukuran besar yang berfungsi seperti komposter alami. Sementara itu, sampah residu dibakar menggunakan mesin Motah.

Mesin olah runtah tersebut mampu mengolah rata-rata hingga 30 ton sampah per hari. Adapun sampah basah yang diolah mencapai sekitar 6 ton 150 kilogram per minggu.

Pengelolaan ini telah menjangkau seluruh 10 RW di Kelurahan Gempolsari, meski pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran.

Hasil Olahan Jadi Bernilai Ekonomi

Menariknya, hasil pengolahan sampah residu melalui mesin motah tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai guna. Abu hasil pembakaran dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving blok.

“Dalam satu hari, kami bisa memproduksi sekitar 200 hingga 300 paving blok. Abu dari motah ini juga bisa dimanfaatkan sebagai campuran semen, bahkan hanya perlu tambahan material sedikit untuk menjadi bahan bangunan,” jelasnya.

Beberapa infrastruktur seperti benteng atau pembatas di area pengolahan sampah pun telah memanfaatkan material hasil olahan tersebut.

Solusi untuk Skala Kecamatan

Terkait kebutuhan pengelolaan sampah di tingkat yang lebih luas, pihak kelurahan menilai jumlah mesin pengolah harus disesuaikan dengan kepadatan penduduk. Berdasarkan perhitungan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, satu kecamatan dengan tingkat kepadatan tinggi idealnya memiliki hingga enam unit mesin motah.

Sebagai gambaran, produksi sampah di wilayah Bandung diperkirakan mencapai sekitar 200 ton per hari. Untuk kecamatan dengan jumlah penduduk lebih sedikit, dua hingga tiga mesin dinilai cukup untuk menekan volume sampah secara signifikan.

Melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor, Kelurahan Gempolsari menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi persoalan lingkungan perkotaan.

(Purwadhi-JSI)

Editor. Herman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *